Indeks Artikel
Daftar artikel yang terkait presiden
Tentang Rubrik
Artikel atau karya penulis yang pernah menjadi Presiden RI, baik yang ditulis pada masa bersangkutan akan, sedang, atau sudah tidak lagi menduduki jabatan presiden;
Berita tentang individu yang pernah menjadi Presiden RI, baik tentang hal-hal yang terjadi pada masa bersangkutan akan, sedang, atau sudah tidak lagi menduduki jabatan presiden;
Mengangkap sinyal istana
Anotasi:
Muktamar NU telah digelar awal Desember 2004 lalu di Boyolali. Ada isu yang beredar bahwa telah ada upaya intervensi pemerintah pada muktamar tersebut. Sinyalemen itu diperkuat dengan hadirnya Saifullah dan Basyumi sebagai dua tokoh penting dalam kabinet SBY, serta bantuan pemerintah Rp. 1 Miliar untuk pelaksanaan muktamar. Pihak NU membantah bahwa isu tersebut dan menyatakan bahwa presiden tidak mendukung calon manapun. Menurut staf khusus presiden, pemerintah menghormati siapa pun yang terpilih, baik dari kubu Abdurrahman maupun kubu Hasyim.Sumber: Tempo. -- Th. 33, no. 41, 12 Desember 2004. -- Jakarta : Grafiti Pers, 1998. Hlm. 29Mari bersaing secara sehat
Anotasi:
Kampanye "intim" resep sukses SBY meraih suara terbanyak. Optimistis menang diputaran kedua. SBY menyatakan siap membangun pemerintah koalisi terbatas. Langkah-langkah yang dijanjikan apabila dirinya terpilih, antara lain: 1) segera menyusun dan menuntaskan susunan kabinet; 2) segera me-review APBN untuk 2005; 3) harus ada aturan main yang baik antara DPR, DPD, dan pemerintah supaya tetap kritis satu sama lainnya, tetapi sinergis; 4) melakukan langkah-langkah klinis menyangkut prioritas, khususnya dalam penegakan hukum dan penyelesaian konflik Aceh dan Papua. Selebihnya ia berjanji untuk lebih sering bertemu dengan rakyat, kabinet dan aparat daerah yang bekerja secara serius.Sumber: Gatra. -- Th. 10, no. 46, 2 Oktober 2004. -- Jakarta : Era Media Informasi, 1994. Hlm. 29-31Letjen (Purn.) Soeyono: "SBY ada di lokasi, tapi...".
Anotasi:
Sebagai Kasum Markas ABRI, Letjen Soeyono dituding sengaja menghindar dari peristiwa Sabtu kelabu 27 Juli 1996. Ia membantah hal itu. Menurutnya pada saat kejadian itu ia tidak sedang berada di Jakarta. Ia juga menjelaskan posisi SBY pada saat peristiwa itu terjadi. Meskipun SBy sebagai staf kodam pada saat itu dan memimpin rapat, ia hanya bertugas melaksanakan keputusan dan perintah panglima. Seorang kepala staf tidak punya wewenang membuat dan melaksanakan keputusan. Tugasnya hanya memperlancar komunikasi dengan panglima. Diminta atau tidak, dia harus memberikan masukan. Soal dipakai atau tidak, itu sudah keputusan panglima.Sumber: Tempo. -- Th. 33, no. 22, 1 Agustus 2004. -- Jakarta : Grafiti Pers, 1994. Hlm. 24-29Lamar melamar jual mahal
Anotasi:
Peraih kursi DPR terbesar diperebutkan kubu Mega dan SBY. Petinggi Golkar terbelah, antara pihak yang pro untuk berkoalisi dengan kubu Mega-Hasyim, dengan pihak yang pro untuk berkoalisi dengan kubu SBY-KallaTri Mumpuni Wiyatno, 1964-Sumber: Gatra. -- Th. 10, no. 24, 1 Mei 2004. -- Jakarta : Era Media Informasi, 1994. Hlm. 24-29Kontes pesona dua jenderal
Anotasi:
Pada pemilihan presiden Indonesia mendatang akan terjadi pertarungan dua jenderal. Wiranto dari Golkar dengan SBY dari Partai Demokrat. Peringkat Susilo Bambang Yudhoyono masih tinggi dibandingkan Wiranto. Agar bisa meraih kursi RI-1, Wiranto dan Golkar harus menggandeng partai lain. Maka dukungan PPNUI terhadapnya sangat menggembirakan. Strategi SBY menggaet Kalla sebagai wakilnya, akan menarik massa Golkar di wilayah Indonesia Timur.Partai DemokratSumber: Gatra. -- Th. 10, no. 24, 1 Mei 2004. -- Jakarta : Era Media Informasi, 1994. Hlm. 24-29
Menampilkan 5 dari 72 artikel
Lanjut membaca


