indJKPNPNA
Rekam Jejak Jadi Penentu
Suara Pembaruan, 16 April 2019
Anotasi
Indonesia butuh pemimpin yang cerdas dan tegas, mempunyai visi jelas membangun masa depan, menghargai keberagaman serta mampu menjadi pemersatu bangsa. Sosok seperti itu bisa diukur dan rekam jejak masing-masing capres-cawapres yang tengah bertarung dalam Pilpres 2019.
Track record diyakini menjadi salah satu pertimbangan penentu pemilih pada pencoblosan 17 April esok.
Sebagai petahana, Jokowi memiliki pengalaman pernah memimpin negeri ini, sebagai wali kota Solo dan sebagai Gubernur DKI Jakarta. Capres nomor urut 01 ini dikenal bersih.
Sementara capres nomor urut 02, Prabowo Subianto dinilai tegas karena rekam jejak kepemimpinannya sebagai Danjen Kopassus dan Ketua Umum Gerindra.
Ada tiga hal yang menjadi pertimbangan pemilih dalam menentukan pilihannya, pertama, melihat dari rekam jejak dan kerja sang calon, kedua, janji atau program yang akan dilakukan jika terpilih, ketiga, pengaruh faktor primodial seperti kesamaan suku, agama, ras dan unsur primordial lainnya. Demikian dikatakan Direktur Eksekutif Charta Politica, Yunarto Wijaya; faktor visi dan misi juga bisa berpengaruh. Menurutnya, kelebihan Jokowi adalah sifat kepemimpinannya yang merakyat, mau mendengar dan sederhana. Jokowi seorang pekerja yang tidak banyak bicara tetapi langsung bekerja. Kelebihan lainnya adalah Jokowi sudah berpengalaman mengelola negara. Mulai dari Wali Kota Solo, Gubernur DKI, dan sebagai Presiden Petahana. Selain itu dukungan parpol koalisi dalam pemilu kali ini lebih kuat dan banyak dibanding Pemilu 2014 lalu.
Kelemahannya, Jokowi memimpin negara ini di saat ekonomi dunia mengalami kelesuan dan perlambatan.
Sementara kelebihan capres Prabowo Subianto adalah sebagai simbol perlawanan terhadap Jokowi. Masyarakat yang tidak suka dengan Jokowi, bersatu dan berkumpul serta menjadikan Prabowo sebagai simbul untuk melawan. Latar belakang sebagai militer yang berkarakter adalah kelebihan lainnya, dinilai sebagian masyarakat sebagai pimpinan yang tegas dan keras terhadap dominasi asing.
Selain itu Prabowo dapat diandalkan menjadi wadah perjuangan bagi kelompok-kelompok yang dipinggirkan atau dibuang atau dibubarkan Jokowi, misalnya kelompok Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) biasa menjadikan Prabowo sebagai tempat bernaung satu-satunya. Adapun kelemahan Prabowo sudah diangga biasa oleh sebagian masyarakat dan sudah pernah disampaikan sejak Pemilu 2014 lalu. Sayangnya tidak ada yang baru dari kampanye Prabowo kali ini. Kelemahan lainnya, Prabowo dengan terbuka membuka latar belakang dirinya berasal dari keluarga nasrani yang membuat sejumlah pemilih loyalnya menjadi ragu untuk memilih, kehilangan simpatik dari pemilihnya dari pemilih fundamentalis agama.
Sekarang tinggal masyarakat yangmenilai, rekam jejak pasangan calon maupun parpol yang berlaga di pemilu menjadi pertimbangan, sebelum membuat keputusan memilih.
Publik akan bisa membedakan mana yang putih mana yang hitam, mana yang terbaik berdasarkan rekam jejaknya mana yang tidak. Kami serahkan sepenuhnya kepada masyarakat untuk menilainya, demikian kata Hasto Kristiadi, Ketua Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma'ruf.
Sementara juru bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, Andre Rosiade menyatakan, jika bangsa ini ingin berubah, hanya Prabowo-Sandi yang mampu melakukan hingga lima tahun ke depan.
