indJKPNPNA
PAN dan Demokrat Ditolak?
Suara Pembaharuan, Kamis, 2 Mei 2019
Anotasi
Kemenangan Joko Widodo dan Ma'ruf Amin (Jokowi Ma'ruf) pada Pemilu Presiden dan Wakil Presiden 2019 sudah didepan mata. Dalam penghitungan suara formulir C-1 yang masuk baru 61 persen, kubu Jokowi Ma'ruf meraup 56 persen sedangkan kubu Prabowo Subianto-Sandiaga Uno (Prabowo-Sandi) hanya 44 persen.
Dari perhitungan real count KPU tersebut sejumah partai politik pendukung Prabowo-Sandi mulai bermanuver politik untuk meninggalkan koalisi tujuannya adalah ketika KPU menetapkan pemenang (Jokowi-Ma'ruf) maka mereka bisa bergabung di koalisi parpol pengusung dan pendukung Jokowi-Ma'ruf. PAN dan Demokrat ada potensi loncat pagar bergabung dengan Pemerintahan Jokowi, meski ada bantahan dari sejumlah elit menyatakan akan tetap mengawal penghitungan suara dan tetap berada di kubu Prabowo-Sandi.Dari sumber Suara Pembaharuan (SP) menyebutkan hampir seluruh parpol pendudkung Jokowi tidak menginginkan pendukung Prabowo untuk merapat, apalagi disinyalir bukan untuk rekonsiliasi tetapi hanya mengejar jabatan di Kabinet. Tetapi dari kegiatan yang dilakukan Prabowo Subianto belakangan ini memang menyiratkan adanya gelagat perpecahan di kubu nomor urut 02 yang tidak menerima hasil penghitungan suara, baik itu yang dilakukan lembaga survei maupun real count KPU. Di Internal kubu Prabowo sendiri banyak tokoh dan elit politik yang tidak sependapat dengan klaim sepihak kemenangan Prabowo-Sandi, dan ada upaya ke arah mendiskualifikasikan pasangan Jokowi-Ma'ruf meski tak ada alasan dan bukti yang cukup.
