indJKPNPNA
Koalisi Paslon 02 Terkoyak
Suara Pembaruan, 9 April 2019
Anotasi
Surat peringatan Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), agar kampanye akbar Prabowo-Sandi pada Minggu |(7/4) tidak mengusung politik identitas, merupakan penegasan keterkoyakan koalisi paslon nomor urut 02 Pilpres 2019. Walau dibantah oleh elit koalisi 02, Waketum DPP Partai Demokrat Syarief Hasan tegas menyatakan partainya tidak mendapatkan efek ekor jas dari kontestasi Pilpres 2019 sehingga mereka menerpkan strategi dual track.
SBY mengirimkan surat kepada tiga petinggi partainya, Ketua Dewan Kehormatan Amir Syamsuddin, Waketum Syarief Hasan, dan Sekjen Hinca Panjaitan. Dalam suratnya SBY mengatakan bahwa setelah mengetahui runcown acara kampanye akbar terasebut SBY menilai tidak lazim dan tidak mencerminkan kampanye nasional yang inklusif.
Direktur eksekutif Kelompok Diskusi dan Kajian Opini Publik Indonesia, Hendri mengatakan tidak melihat manuver SBY ini sebagai keretakan yang wajar yakni soal perbedaan pendapat. Partai Demokrat tidak akan memindahkan dukungan.
Surat itu semakin membuktikan bahwa Partai Demokrat tidak bisa secara total mendukung padangan nomor urut 02 Prabowo-Sandi di Pilpres 2019. Pada kampanye akbar tersebut tidak dihadiri kader maupun petinggi Demokrat seperti AHY. Hal ini semakin mempertegas seperti apa posisi SBY di koalisi Prabowo-Sandi.
Kritikan SBY ini bisa jadi karena tidak ada tempat untuk pidato ketua-ketua partai koalisi. Manuver SBY kali ini sedikit banyak akan mempengaruhi elektabilitas Probowo-Sandi. Di akar rumput, kader Demokrat tentunya akan semakin bertanya-tanya apakah memang sebaiknya mendukung pasangan nomor urut 01, Jokowi-Ma'ruf.
Dari masyarakat awampun akan bisa menilai bahwa peran PKS melalui jaringan yang dimilikinya lebih mendominasi. Namun demikian besar kecilnya pengerahan massa tidak berbanding lurus dengan kemenangan di Pemilu.
