indJKPNPNA
Kampanye Terakhir
Suara Pembaharuan 10 April 2019
Anotasi
Minggu ini adalah kapanye terakhir Pamilu 2019. Untuk Pilpres, sampai awal April ini pasangan nomor urut 01 Jokowi-Ma'ruf Amin masih jauh memimpin atas pasangan nomor urut 02 Prabowo Soebianto-Sandiaga Unu. Hasil ini dirilis oleh lembaga-lembaga survei yang kredibilitasnya diketahui masyarakat luas, tetapi lembaga survei yang tidak diketahui kredibilitasnya memberikan hasil yang berbeda.
Sampai minggu terakhir ini Prabowo-Sandi tetap menjual aura negatif dalam setiap kampanyenya. Dalam kampanya terbaru Prabowo berpidato sambil menggebrak-gebrak meja. Emosinya hampir tidak terkendali dan isi pidatonya tidak lebih dari kalimat-kalimat yang bernada negatif tentang berbagai aspek kondisi Indonesia. Data-data yang dipaparkannya juga banyak hal-hal yang harus dikritisi. Di beberapa kesempatan Prabowo sering bicara bahwa ia sering antiasing. Namun dikesempatan lain ia terus pula mereproduksi ancaman asing, yang tak jelas yang akan dilakukannya dengan sikap antiasing atau tidak antiasing itu.
Wacana inklusivitaw dan keragaman serta toleransi, tak lebih hanyalah wacana di atas kertas. Tidak heran jika Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) akhirnya bersuara lantang soal kerisauannya melihat cara-cara Prabowo yang selalu mengeksploitasi isu-isu identitas. SBY khawatir perpecahan Indonesia benar-benar akan terjadi jika cara-cara ekploitasi politik identitas itu tidak sebera diubah. Apa yang dilakukan Prabowo tersebut jelas menegaskan pemikirannya selama ini, dengan retorika hanya ingin menarik simpati publik.
Sebaliknya Jokowi mempunyai aura yang berseberangan. Ada beberapa benang merah dari substansi Jokowi, yaitu optimisme, kolaborasi, kreativitas, daya saing, dan kebhinekaan. Kampanye Jokowi adalah kampanya kegembiraan, bukan kampanye ketakutan, kampanye kekhawatiran, kampanye ketakutan. Selain itu Jokowi mempunyai kerangka yang jelas dalam mewujudkan mimpinya tentang Indonesia. Yang khas dari kampanye Jokowi adalah keakraban dan keinginan untuk merangkul dan saling mendukung. Jarak antara elite dan rakyat hampir tidak ada, larut dalam semangat kebersamaan bukan semangat pemisahan elit dan rakyat.
Pileg dan Milenial
Indonesia menganut sistem Trias Politica, dimana Eksekutif sama pengtingnya dengan Legislatif dan Yudikatif, selama ini perhatian dan energi ditumpahkan seolah-olah hanya untuk Eksekutif (pilpres). Dimunggu terakhir ini ada baiknya seluruh rakyat meluangan perhatian kepada pileg.
Sentuhan yang menarik diberikan oleh partai-partai dalam Pemilu 2019. Ini berkaitan dengan tema anak muda alias milenial yang sedang menjadi tren. Pola kampanye makin kreatif dan variatif, misalnya Partai Golkar mempunyai pendekatan menarik dengan mengoptimalkan partisipasi anak muda, tema-tema kreativitas, kemajuan teknologi, kesetaraan dan kegembiraan tidak lepas dari kampanye Partai Golkar. Tema-tema itu seolah ingin mendobrak tradisi dan stigma tentang partai ini yang sebelumnya dianggap tidak asyik. Bukan hanya tema dan kreativitas, Partai Golkar juga melibatkan anak muda untuk ikut berjuang bersama.
Diperkirakan pemilu kali ini bertambah partisipan dari kalangan pemilih pemula dengan banyaknya antrian dalam mengurus formulir A5 di banyak Komisi Pemilihan Umum (KPU) di daerah-daerah; hal ini membantah anggapan bahwa anak muda Indonesia abai politik. Perlu pendekatan sendiri dalam politik yang berbeda dengan generasi yang lebih tua.
Anak muda Indonesia sebenarnya cepat tanggap dengan apa yang terjadi di Indonesia, namun mereka cenderung lebih suka yang privat dan punya kemandirian dalam menentukan pilihan dan meraka tidak suka ditekan.
Anak muda Indonesia ingin sesuai yang jelas, sesuatu yang terukur dan sesuatu yang sesuai dengan karakter mereka.
Minggu depan kita akan memilih. Kita tentu berharap antusiasme anak muda itu tidak hanya berkaitan denagn pilpres tetapi juga berkaitan dengan pileg. Ini masanya anak muda sebagai pemilih juga sebagai yang dipilih.
